Tuesday, 9 April 2013

MAKALAH TENTANG BATIK


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Batik merupakan salah kekayaan seni warisan budaya masa lampau, yang telah menjadikan Negara Indonesia memiliki cirri yang khas di mancanegara. Perkembangan batik yang sudah menempuh perjalanan berabad-abad silam, telah melahirkan berbagai jenis dan corak batik yang khas disetiap daerahnya.
Kepopuleran batik Indonesia dikancah dunia. Untik itu bagai warga Negara Indonesia kita harus bangga dan ikut mempertahankan warisan budaya ini agar tidak punah dengan bergantinnya zaman. Dengan adanya karya tulis ini diharapkan dapat menambah pengetahuan teman-teman mengenai warisan budaya Indonesia khususnya batik


BAB II
ISI / PEMBAHASAN

A.    Pengertian Batik
Menurut bahasa Jawa, kata batik diambil dari kata “ambatik” yaitu kata “amba” yang berarti menuis dan akhiran “tik” yang berarti titik kecil, tetesan, atau membuat titik. Jadi, batik mempunyai arti menulis atau melukis titik. Tetapi secara esensial, batik diartikan sebagai sebuah proses atau teknik menahan warna dengan menggunakan lilin malam. Artinya, batik adalah sebuah proses menahan warna dengan memakai lilin malam secara berulang-ulang diatas kain.

B.     Proses Pembuatan Batik
Secara umum proses pembuatan batik melalui 3 tahapan yaitu pewarnaan, pemberiaan malam (lilin) pada kain dan pelepasan lilin dari kain. Kain putih yang akan dibatik dapat diberi warna dasar sesuai keinginan atau tetap bewarna putih sebelum kemudian diberi malam.
Proses pemberian mala mini dapat menggunakan proses batik tulis dengan canting tangan aatau dengan proses cap. Pada bagian kain yang diberi malam, pewarnaan pada batik tidak dapat masuk karena tertutup oleh malam (waxresist).
Setelah diberi malam, batik dicelup dengan warna. Proses pewarnaan ini dapat dilakukan beberapa kali sesuai keinginan dengan beberapa warna yang diinginkan.
Jika proses pewarnaan dan pemberian malam selesai, maka malam dilunturkan dengan proses pemanasan. Batik yang  telah menjadi leleh dan terlepas dari air. Proses perebuasan ini dilakukan dua kali, yang terakhir dengan larutan soda ash untuk mematikan warna yang menempel pada batik dan menghindari kelunturan. Setelah perebusan selesai, batik direndam dengan air dingin lalu dijemur.

C.    Alat-alat Untuk Membuat Batik / Perlengkapan Membatik
Terdapat beberapa hal yang harus kita persiapkan dalam mempersiapkan alat dan bahan untuk membuat batik tulis, diantaranya adalah.




1.      Kain Mori
Kain mori adalah bahan baku batik yang bias terbuat dari katun, sutera, polyster, rayon dan bahan sintesis yang lainnya. Warna kain mori adalah putih. Kualitas kain ini beragam, dan setiap kualitasnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Kain mori yang akan dipakai sebelummnya dipilih (dijahit pada bekas potongan) terlebih dahulu supaya benang pakan tidak terlepas. Setelah dipilit, lalu kain dicuci dengan air tawar hingga bersih.
2.      Canting

Canting adalah untuk membatik, yang terabuat dari bahan tembaga dan bamboo. Canting dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna. Canting dipergunakan untuk menulis atau membuat motif-motif batik yang diinginkan.
Canting terdiri dari cucuk (saluran kecil) nyamplungan dan gagang terong. Lubang cucuk bermacam-macam, ada yang besar dan kecil. Banyaknya cucukpun beragam ada yang satu cucuk, dua cucuk, tiga cucuk.
3.      Gawangan
Gawangan adalah alay untuk menyangkutkan dan membentangkan kain mori sewaktu dibatik. Gawangan terbuat dari kayu atau bamboo. Gawangan ini harus dibuat sedemikian rupa agar mudah dipindah-pindahkan, kuat dan ringan.
4.      Lilin
Lilin adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Penggunakan lilin untuk membatik berbeda dengan lilin yang biasa. Lilin untuk membatik bersifat cepat menyerap pada kain tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses pelorotan.
5.      Wajan
Wajan adalah alat untuk mencairkan lilin atau malam. Wajan terbuat dari logam baja atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain. Wajan yang terbuat dari tanah liat, tangkainya tidak mudah panas, tapi agak lambat memanaskan malam. Sedangkan wajan yang terbuat dari logam, tangkainya mudah panas, tetapi cepat memanaskan malam.
6.      Bandul
Bandul dibuat dari timah, kayu, atau batu yang dikantongi. Fungsi pokok bandul adalah untuk menahan kain mori yang baru dibattik agar tidak mudah bergeser tertiup angin, atau ketarik si pembatik secara tidak sengaja
7.      Anglo
Anglo adalah perapian yang terbuat dari tanah liat sebagai pemanas malam. Bahan bakarnya adalah arang kayu. Selain menggunakan anglo, kompor juga bias digunakan untuk memanaskan malam, bahan bakar kompor adalah minyak.
8.      Tepas
Tepas adalah alat untuk membesarkan api, yang terbuat darin bambu. Selain tepas, dapat menggunakan kipas angin untuk membesarkan api
9.      Taplak
Taplak adalah kain untuk menutup paha sipembatik supaya tidak kena tetesan malam panas sewaktu canting ditiup, atau waktu membatik. Taplak biasanya terbuat dari kain bekas.
10.  Saringan Malam
Saringan adalah alat untuk menyaring malam  panas yang banyak kotorannya. Jika malam  disaring, maka kotoran dapat dibuang, sehingga tidak menganggu jalnnya malam pada cucuk canting sewaktu dipergunakan untuk membatik.
11.  Dingklik
Dingklik adalah tempat duduk untuk pembatik
D.    Jenis-Jenis Batik
Berdasarkan  proses pembuatannya batik dibagi kedalam beberapa macam yaitu sbb :
1.      Batik Tulis
Batik tulis adalah suatu teknik melukis diatas kain, dimana kain tersebut akan dihias dengan tekstur dan corak batik dengan menggunakan tangan. Dalam pembuatan abtik tulis digunakan alat yang dinamakan canting. Batik tulis merupaakan batik yang didalam pembuatannya diperlukan keahlian, pengalaman, ketelitian, kesabaran dan juga waktu yang lama untuk menyelesaikan batik tulis.
Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan batik tulis, yaitu :
a)      Tahap pertama atau disebut juga proses pebatikan pertama, yaitu pembuatan pola dan motif yang dikehendaki ditas kain putih (sutera) dilukis dengan pensil.
b)      Tahap kedua, yaitu melukis dengan lilin malam menggunakan canting dengan mengikuti pola yang telah ada pada kedua sisi (bolak-balik)
c)      Tahap ketiga, yaitu menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan tetap bewarna putih (tidak bewarna)
d)     Tahap keempat, yaitu proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu
e)      Tahap kelima, setelah dicelupkan, kain tersebut dijemur dan dikeringkan
f)       Tahap keenam, setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu dengan lilin malam menggunakan canting untuk menutupi bagian yang akan tetap dipertahankan pada pewarnaan yang pertama
g)      Kemudian dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakan kain tersebut dengan air panas diatas tungku
h)      Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutup lilin (menggunakan alat canting untuk menahan warna pertama kedua )
i)        Proses membauka dan menutup lilin  malam dapat dilakukan berulang kali sesuai dengan banyaknya warna dan kompelksitas motif yang diinginkan.
j)        Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut kemudian mengeringkannya dengan cara menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.



2.      Batik Cap
Batik cap adalah suatu teknik membatik yang menghiasi kain dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan suatu alat yaitu berupa cap, atau alat cetak atau stempel yang terbuat dari tembaga dan pada cap tersebut telah berpola batik. Sehingga proses pembatikan cetak (cap) dapat jauh lebih cepat dan mudah untuk pengerjaan batik ini dapat diproduksi secara banyak dan juga tidak membutuhkan waktu yang lama, karena dalam proses pembuatannya tidaklah  menuntut keahlian si pembatik
Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan batik cap, yaitu :
a)      Pembuatan pola dan motif yang dikehendaki diatas kain putih (sutera) dengan dicap / dicetak dengan menggunakan alat cap tersebut ke lilin panas dan kemudian ditekan pada kain.
b)      Proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu.
c)      Setelah dicelupkan, kain tersebut dijemur dan dikeringkan
d)     Setelah kering, kembali melakukan proses pembarikan yaitu melukis dengan lilin malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada pewaranaan yang pertama
e)      Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua
f)       Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakan kain tersebut dengan air panas diatas tungku
g)      Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting) untuk menahan warna pertama dan kedua
h)      Proses membuka dan mentutup lilin malam dapat dilakukan berulang kali sesuai dengan banyaknya warna kompleksitas motif yang diinginkan
i)        Proses terkahir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya dan dengan menjermurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.

3.      Batik Printing
Batik printing disebut juga denbgan batik sablon, karena proses pembatikan ini sangat menyerupai proses penyablonan. Motif batiknya telah dibuat dan didesain atau diprint diatas alat offset/sablon (plangkan), sehingga dapat sangat memudahkan pengerjakan batik ini khususnya pewarnaan dapat langsung dilakukan dengan alat tersebut. Hanya untuk pembatikan dan pewarnaan yang lebih komplek digunakan lilin malam dengan alat canting. Kemudian jenis batik ini mula menggeser keberadaan batik tulis dan cetak, sehingga mengalami perdebatan diantara seniman dan pengrajin batik; sehingga batik printing ini disebut dengan kain bermotif batik. Pembuatan batik ini tidak serumit dan selama pengerjaan pada batik tulis. Namun, kekurangan pada batik printing ini yaitu gambarnya hanya berada pada satu sisi (sisi di atas kain), karena warnya tidak mersep ke seluruh serat kain, sehingga dibalik kain masih terlihat sedikit bewarna putih.
Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan batik printing, yaitu :
a)      Pembuatan pola dan motif yang diinginkan diatas kain putih (sutera) dengan disablon / diprint menggunakan alat cetak sablon (plankon)
b)      Tahapn selanjutnya seperti proses pertama untuk pewarnaan kedua dan juga sebagai kombinasi motif batik, proses ini dapat dilakukan berulang kali sesuai batik yang diinginkan
c)      Lalu dilanjutkan dengan menjemur atau mengerinkan kain tersebut dibawah terik matahari jika ada atau dapat juga dengan diletakan diatas tungku / oven khusus
d)     Setelah kering kain tersebut dicuci untuk melekatkan dan menguatkan warna pada kain, kemudian dijemur kembali. Proses pembalikan dapat selesai sampai tahap ini, tetapi untuk batik yang lebih rumit dan kompleks dapat melakukan tahap selanjutnya
e)      Kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada proses pencelupan warna
f)       Kemudian dilanjutkan dengan proses pencelupan warna
g)      Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam kain tersebut dengan cara meletakan kain tersebut dengan air panas diatas tungku
h)      Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.
4.      Kombinasi Antara Batik Tulis dan Batik Cap
Batik jenis ini merupakan hasil dari proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Batik ini tetap mempertahankan factor seni dan keindahannya karena dikombinasikan dengan batik tulis. Cara pengerjaan dari batik jenis ini yaitu dengan menggunakan alat cap untuk membuat motif secara keseluruhannya lalu dilanjutkan dengan proses batik tulis
5.      Batik Cabut / Batik Bordir
Batik cabut adalah batik kombinasi antara batik tulis dan batik printing. Proses pengerjaan batik jenis ini yaitu dengan mengkombinasikan proses printing dengan proses canting. Biasanya proses pewarnaan pertama menggunakan printing, namun proses pewarnaan ke-2 dan seterusnya serta pembuatan motif yang lebih rumit menggunakan canting dan malam

E.     Beragam Batik di Daerah – Daerah Indonesia
Ragam hias batik pada masa awalnya terbagi dalam dua kelompok
1.      Batik Keraton
Batik jenis ini banyak mengandung arti filosofi, budaya jawa, nilai-nilai spriritual dan pemurnian diri, serta memandang manusia didalam hidupnya berjalan dalam konteks harmonis semesta dan yang tertib, serasi, dan seimbang. Motif batik keratin cenderung bernuansa tertib, simetris, rumit atau halus,d an bewarna terbatas pada coklat soga dan biru nila.
Motif kuno keratin yaitu seperti pola panji, grinsing, kawung, parang, serta anyaman. Yang termasuk kedalam batik kraton adalah batik Solo dan Yogyakarta
2.      Batik Pesisir
Batik jenis ini terdapat di luar benteng kraton. Batik ini awalnya dibuat sebagai kerja sambilan para wanita didalam rumah tangganya. Batik jenis ini tidak terpaku pada nilai religi magis, coraknya spontan, kasar dan bebas. Batik pesisir menyerap berbagai pengaruh dari luar, seperti para pedagang asing dan para penjajah. Misalnya warna merah didapat oleh orang Tionghoa, warna biru didapat dari penjajah Eropa. Motif batik pesisir banyak yang berupa tanaman, binatang dan cirri khas lingkungannya. Yang termasuk kedalam batik jenis pesisir yaitu derah disekitar pesisir utara Pulau Jawa, diantaranya adalah daerah Pekalongan dan Cirebon.





F.     Motif-Motif Batik
1.      Mega Mendung dari Cirebon
2.      Motif batik Sidumukti dari Solo
3.      Motif batik Sidoluruh dari Solo
4.      Motif Parang dari Yogyakarta
5.      Motif Geometri dari Yogyakarta
6.      Motif Padang


BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Batik merupakan salah satu kekayaan warisan budaya bangsa Indonesia.
Batik adalah sebuah proses menahan warna dengan memakai lilin malam secara berulang-ulang diatas kain

B.     Saran
Sebaiknya memakai batik perlu ditingkatkan lagi agar cirri khas kiya sebagai warga Negara Indonesia tidak hilang. Karena beberapa Negara lainnya sudah mengakui batik Indonesia. Untuk itu kita harus bangga menjadi anak Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA


Hindayani, Fisika, 2009. Mengenal dan Membuat Batik. Jakarta Selatan : Buana Cipta Pustaka
Aliya, 2010. Batik Pekalongan.Jakarta Timur : CV. Rama Edukasitama
Comments
0 Comments

0 comments: