Saturday, 20 October 2012

PERILAKU MENYIMPANG DAN PENGENDALIAN SOSIAL

A. Pengertian dan beberapa contoh perilaku menyimpang
Pada umumnya orang-orang dalam masyarakat cenderung konformis (menyesuaikan cara hidupnya: cara berfikir, berperasaan dan bertindak) dengan yang berlaku di lingkungan kelompoknya. Misalnya: anak laki-laki bermain dengan “mainan laki-laki”, anak perempuan bermain dengan “mainan perempuan”, apabila diberi kesempatan saling berinteraksi maka cenderung memiliki opini atau pendapat yang sama, dan seterusnya.
Mengapa orang-orang cenderung konformis terhadap norma-norma sosial?
1. Orang yang bersangkutan telah berhasil disosialisasikan sehingga menginternalisasikan nilai dan norma yang berlaku di masyarakatnya
2. Orang yang bersangkutan tidak dapat menemukan alternatif lain kecuali mengikuti pola yang sudah ada
3. Apabila tidak konformis dengan norma sosial akan direaksi dengan pemberian sanksi oleh masyarakat, dan apabila konformis akan mendapatkan positive-incentive (ganjaran) dari masyarakat
Meskipun demikian di masyarakat ada sedikit orang yang perilakunya “melanggar” norma atau “menyimpang”. Secara sosiologis istilah “menyimpang” atau “deviance” lebih tepat dari pada “melanggar” atau “violate”. Sebabnya ialah, perilaku yang dikatakan menyimpang di samping meliputi perilaku yang melanggar norma dan merusak atau mengacaukan kaidah yang ada, acapkali terdapat pula perilaku yang tidak terbukti nyata kalau merusak atau mengacau tatanan yang ada, melainkan hanya terasa lucu, aneh, nyentrik, dan malah dapat memperkaya alternatif
perilaku.
Invensi-invensi kreatif dalam berperilaku yang masih dalam taraf individual peculiarities (keanehan pribadi), belum memasyarakat, belum terbakukan dan karenanya masih dinyatakan “melawan arus” pun dapat masuk sebagai perilaku menyimpang. Banyak perilaku-perilaku kreatif seperti bersifat sangat rasional akan dipandang menyimpang hanya karena belum lazim dan berbeda dengan kaidah sosial yang berlaku yang sesungguhnya tidak rasional.
Beberapa batasan tentang perilaku menyimpang:
1. Perilaku menyimpang adalah perilaku yang oleh sejumlah orang dianggap sebagai hal yang tercela dan diluar batas toleransi (van der Zanden, 1979)
2. Perilaku menyimpang adalah perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap norma kelompok/masyarakat (Horton dan Hunt, 1993)
3. Perbuatan disebut menyimpang apabila perbuatan itu dinyatakan menyimpang, sehingga penyimpangan bukanlah kualitas dari suatu tindakan melainkan konsekuensi atau akibat dari adanya peraturan dan diterapkannya sanksi-sanksi oleh masyarakat (Becker, dalam Horton dan Hunt, 1993)
Dari tiga batasan di atas tampak bahwa penyimpangan bukanlah sesuatu yang melekat pada suatu tindakan, tetapi diberi ciri menyimpang melalui definisi sosial. Definisi sosial dapat diberikan oleh golongan/kelas berkuasa atau oleh masyarakat pada umumnya. Maka, “wanita berambut pendek” atau “laki-laki berambut panjang” apakah merupakan suatu penyimpangan?


Bentuk-bentuk perilaku menyimpang:
Secara umum, macam-macam penyimpangan adalah sebagai berikut.
1. Tindakan nonconform (tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ada), misalnya: mengenakan sandal ke sekolah, membolos, dst. Termasuk dalam kategori ini adalah perilaku-perilaku yang terlalu maju, terlalu rasional, terlalu baik, dan sebagainya yang  dalam tahap tertentu masih dalam taraf individual peculiarities sebagaimana disebutkan di atas.
2. Tindakan antisosial (melawan kebiasaan masyarakat/kepentingan umum), misalnya: menarik dari dari pergaulan, keinginan bunuh diri, ngebutisme, alkoholisme, dan seterusnya.
3. Tindakan kriminal, misalnya pencurian, perampokan, pembunuhan, korupsi, dan seterusnya
Secara khusus, macam-macam penyimpangan dapat dirinci sebagai berikut.
1. Penyimpangan diterima dan penyimpangan ditolak
Penjahat ataupun orang-orang yang sangat baik adalah penyimpang. Maka Jack The Ripper dan Florence Ningtingale adalah penyimpang. Perbedaannya adalah ditolak dan diterima.

2. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak
Dalam kehidupan sosial yang sebenarnya sukar dijumpai orang yang sepenuhnya menyimpang atau sepenuhnya konformis. Yang mudah dijumpai adalah menyimpang dalam batas-batas tertentu dan konformis dalam batas-batas tertentu. Sehingga sukar dijumpai orang yang secara mutlak menyimpang.
3. Penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder
Penyimpangan primer terjadi pada kasus seseorang yang menyimpang dalam hal-hal tertentu, temporer dan tidak berulang sehingga pelakunya tidak mendapatkan cap atau label sebagai penyimpang. Penyimpangan sekunder terjadi pada kasus orang yang memperlihat perilaku khas menyimpang, misalnya karena perilaku menyimpang itu dilakukan berulang, sehingga memang orang tersebut kemudian dikenal sebagai penyimpang.
4. Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal
Bahwa perilaku korupsi itu jahat, bahwa merokok itu merusak kesehatan, bahwa NAPZA itu merusak jiwa dan raga, sebagian besar orang tentu setuju dengan pernyataan ini. Tapi, apakah kemudaian tidak melakukannya? Demikianlah, tidak selamanya budaya sejalan dengan budaya ideal. Penyimpangan atau konformis terhadap salah satunya berarti konformis atau menyimpang terhadap yang lain.
5. Penyimpangan individual, kelompok dan campuran
Penyimpangan individual dilakukan oleh seorang individu tanpa melibatkan kelompoknya (individual deviation). Penyimpangan kelompok dilakukan oleh orangorang dalam kelompok (group deviation), yang mungkin saja individu-individu di dalamnya bukanlah penyimpang individual. Contohnya: pelanggaran lampu lalu lintas yang dilakukan oleh sekelompok pengendera kendaraan bermotor. Pelanggaran tersebut dapat jadi bukan kehendak pribadi-pribadi. Pernahkah Anda merasa “dipaksa” menyimpang oleh kelompok Anda?
Penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang baik sendirian maupun bersama dengan kelompoknya disebut sebagai penyimpangan campuran (mixture both deviation).
6. Penyimpangan adaptif
Yang dimaksud penyimpangan adaptif adalah penyimpangan yang berfungsi sebagai cara menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan dalam masyarakat.


B. Pembentukan perilaku menyimpang
1. Teori biologi
Teori ini menjelaskan tentang bagaimana perilaku menyimpang tersebut hubungannya dengan keadaan biologis, misalnya cacat tubuh bawaan lahir, tipe tubuh tertentu,misalnya endomorph (gemuk-halus), mesomorph (sedang-atletis) atau ectomorph (kurus),
dengan perilaku jahat.
2. Teori psikologi
Perilaku menyimpang sering dianggap sebagai penyakit mental, jadi orang yang menyimpang itu karena mengalami penyakit mental atau gangguan kejiwaanaman 5
3. Teori sosialisasi
Perilaku menyimpang merupakan hasil dari proses sosialisasi:
a. proses sosialisasi tidak sempurna, dapat terjadi karena mengalami inferioritas (minder) akibat cacat fisik bawaan lahir, atau memperoleh informasi yang tidak lengkap, misalnya tentang kehidupan seksual.
b. Seseorang menghayati kehidupannya dalam kelompok menyimpang (kebudayaan khusus menyimpang) di delinquen area (dalam sosiologi dikenal adanya black area , atau kawasan permukiman kumuh (slums) yang serinag berasosiasi dengan crime areas, yang dijumpai hampir di setiap kota).
c. Karena pergaulannya dengan para penyimpang (asosiasi diferensial)
4. Teori anomie
Perilaku menyimpang muncul dalam masyarakat karena adanya anomie (kesimpangsiuran norma atau keadaan tanpa norma yang pasti sebagai patokan berperilaku). Anomie menimbulkan perilaku menyimpang karena mengakibatkan keterpisahan emosional (ketidakberdayaan, ketidakberartian, keterpencilan) antara seseorang dengan masyarakatnya.
Emille Durkheim dan Robert K. Merton menguraikan bahwa anomie terjadi karena ketidakharmonisan antara tujuan budaya dengan cara-cara formal untuk mencapai tujuan. Dalam kaitan ini Merton mengemukakan adanya lima macam cara adaptasi oleh orang atau sekelompok orang terhadap tujuan-tujuan masyarakat, yaitu:

Cara adaptasi
Tujuan budaya
Cara formal

Konformitas (penyesuaian)
Diterima
Diterima
Inovasi (pembaruan)
Diterima

Ritualisme
Diabaikan/ditolak
Diterima
Retreatisme
(pengunduran/menarik diri)
Ditolak

Ditolak

Rebellion (pemberontakan)
Ditolak dan berupaya Ditolak dan berupayamenggantinya dengan yang baru
Ditolak dan berupaya Ditolak dan berupayamenggantinya dengan yang baru

Di antar lima cara adaptasi di atas hanya satu yang bukan penyimpangan, yakni konformitas.
5. Teori reaksi masyarakat: teori labelling (pemberian cap)
Seseorang berperilaku menyimpang karena oleh masyarakat diberi cap menyimpang. Pemberian cap ini mendorong individu melakukan serangkaian perbuatan yang merupakan self-fulfilling prophecy (pembenaran peramalan diri) bahwa ia adalah penyimpang.
6. Teori konflik
Teori konflik meliputi dua hal, yaitu konflik budaya dan konflik sosial. Konflik budayan terjadi pada masyarakat dengan ciri pluralitas (kemajemukan), di masyarakat tersebut terdapat dua atau lebih kelompok dengan subkultur yang saling berbeda, sehingga suatuperilaku yang sesuai dengan subkultur tertentu dapat berarti penyimpangan terhadap subkultur yang lain. Teori konflik sosial menerangkan bahwa penyimpangan terjadi karena adanya perbedaan norma dan kepentingan di antara kelas-kelas, sehingga suatu perilaku yang tidak sesuai dengan perilaku kelas tertentu dinyatakan sebagai perilaku menyimpang.
7. Teori pengendalian sosial
Penyimpangan terjadi karena lemahnya pengendalian sosial, baik berupa tekanan social maupun pemberian sanksi-sanksi, bahwa suatu kejahatan, misalnya mencuri ataumemperkosa, tidak selalu diawali oleh adanya niat untuk mencuri atau memperkosa, tetapi karena adanya kesempatan untuk itu, akibat lemahnya pengendalian sosial.
P E N Y I M P A N G A N D A N P E N G E N D A L I A N S O S I A L A G U S S A N T O S A
Halaman

 7
C. Pengertian dan Jenis-jenis Pengendalian Sosial
Agar dapat diterima oleh kelompok atau masyarakatnya individu harus mentaati sejumlah aturan yang hidup dan berkembang dalam masyarakatnya. Untuk itu masyarakat melakukan pengendalian sosial terhadap para warganya sehingga perilaku sebagian besar wargamasyarakat berada dalam kerangka keteraturan sosial.
Dalam masyarakat orang dikendalikan terutama dengan mensosialisasikan mereka dengan nilai dan norma sosial sehingga mereka menjalankan peran-peran sesuai harapan sebagian besar warga masyarakat, melalui penciptaan kebiasaan dan rasa senang.
Namun dalam kenyataannya, meskipun nilai dan norma sosial itu telah disosialisasikan, tetap saja terjadi penyimpangan. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi saja tidak cukup untukterciptanya keteraturan sosial. Norma-norma sosial itu tidak cukup kuat mempunyai selfenforcing (kemampuan diri melaksanakan fungsi) di dalam menjamin keteraturan sosial. Oleh karena itu, di samping proses sosialisasi masyarakat menciptakan pula system pengendalian sosial.
Apa yang dimaksud pengendalian sosial?
1.      Pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan oleh masyarakat untuk menertibkan anggota-anggotanya yang membangkang (Berger, 1978)
2.      Pengendalian sosial adalah segenap cara dan proses yang ditempuh oleh sekelompok orang atau masyarakat sehingga para anggotanya dapat bertindak sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat (Horton dan Hunt, 1993).
Menurut waktu pelaksanaannya, pengendalian sosial dapat dibedakan antara
1.      Pengendalian sosial preventif, yakni dilakukan sebelum terjadi penyimpangan
2.      Pengendalian sosial kuratif, yang dilakukan setelah terjadi penyimpangan, dimaksudkan untuk memulihkan keadaan P A N G A N D A N P E N G E N D A L I A N S O S I A L A G U S S A N T O S A
Sedangkan apabila menurut caranya, tedapat pengendalian sosial
1. Persuasif, yakni yang dilakukan dengan mengajak atau mendidik
2. Represif, dilakukan dengan menggunakan tekanan sosial, paksaan, atau bahkan kekerasan

Menurut Soetandyo Wignyosubroto, sarana utama pengendalian sosial adalah sanksi, yaitu suatu bentuk penderitaan yang secara sengaja dibebankan oleh masyarakat. Individu yang telah menyimpang dikenakan sanksi, dan yang diperkirakan akan menyimpang diancam dengan sanksi. Secara umum sanksi ada tiga macam: (1) sanksi ekonomi, (2) sanksi fisik, dan (3) sanksi psikologis.
Mengapa masyarakat melakukan pengendalian sosial?
1. Eksploitasi, pengendalian sosial dimaksudkan untuk mengendalikan situasi sehingga tidak mengancam kepentingan-kepentingan yang telah tertanam kuat (vested interested)
2. Regulatif, pengendalian sosial dilakukan agar dicapai keteraturan sosial, sehingga warga masyarakat mudah menyesuaikan dirinya dengan tujuan-tujuan masyarakat, termasuk mudah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya
3. Konstruktif, pengendalian sosial dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan dan kebudayaan ke arah yang diharapkan oleh sebagaian besar masyarakat

Cara-cara pengendalian sosial:
1. Sosialiasi
Para anggota masyarakat disosialisasikan untuk menjalankan peran sesuai dengan harapan masyarakat. Melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan nilai-nilai sehingga menjadi bagian dari perilaku otomatisnya. Dengan kata lain, sosialisasi membentuk kebiasaan, keinginan dan tata cara yang sangat membantu dalam mengambil keputusan “apakah dan harus bagaimanakah” melakukan aktivitas (termasuk kapan bangun pagi, kapan tidur, bagaimana bentuk potongan rambut laki-laki, bentuk potongan rambut perempuan, prosedur memperoleh pasangan hidup, dan seterusnya).
2. Tekanan sosial
Individu akan menerima tekanan sosial tertentu apabila perilakunya tidak konformis dengan harapan-harapan masyarakat.Tekanan sosial dapat dilakukan dengan cara-cara: membujuk, meperolok, mempermalukan, mengucilkan, dan sebagainya. Cara-cara demikian memang cukup
efektid pada kelompok primer. Pada kelompok sekunder, tekanan-tekanan sosial dilakukan dengan peraturan resmi, srandardisasi, propaganda, human engineering, reward dan hukuman. Cara-cara ini akan lebih efektif kalau didukung oleh kelompok primer. Tekanan sosial seperti pada kelompok primer tidak efektif pada kelompok sekunder karena kebutuhan orang pada kelompok sekunder bukanlah kebutuhan emosional, maka jika kelompok sekunder tidak lagi dapat memenuhi kebutuhannya yang ditinggalkan saja. Orang sering tidak bersedih kehilangan kelompok sekunder.
Bahasa sebagai alat pengendalian sosial
Menurut para penganut teori interaksionisme simbolik, bahasa adalah konstruksi kenyataan sosial. Penggunaan bahasa diyakini dapat mengubah cara pandang seseorang. Penggunaan bahasa-bahasa tertentu (istilah-istilah) dapat merupakan tekanan sosial bagi pihak-pihak tertentu dalam masyarakat sehingga perilakunya dapat dikendalikan.Bahasa sebagai alat tekanan sosial melalui eufemisme (penghalusan bahasa) ataupun plesetan (redefinition).
3. Kekuatan/paksaan fisik
Apabila cara-cara pengendalian sosial melalui sosialisasi dan tekanan sosial tidak lagi efektif, maka adalah yang tertua dan terkini: paksaan fisik, resmi maupun tidak resmi.

D. Peran lembaga (pranata) sosial dalam mengendalikan perilaku menyimpang
Di antara sekian lembaga sosial yang ada dalam masyarakat, adalah regulative institution yang secara tegas berfungsi sebagai kontrol sosial, misalnya: lembaga kepolisian, pengadilan,
adat, lembaga-lembaga perwakilan rakyat di mana di dalamnya ada para tokoh masyarakat,
dan sebagainya.
Beberapa lembaga juga sering disebut lembaga resosialisasi. Misalnya rumah singgah, penjara, dst. Mengapa resosialisasi? Beberapa anggota masyarakat memiliki perilaku yang menyimpang atau tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam kelompok/masyarakat, mulai dari yang sekedar berbeda, unik, bahkan jahat. Melalui proses resosialisasi nilai-nilai lama yang dianut oleh seseorang dicabut dan digantikan dengan nilainilai baru yang sesuai dengan harapan sebagian besar anggota masyarakat.
Berikut ini lembaga-lembaga yang berfungsi dan berperan dalam proses pengendalian sosial,
antara lain:
1. Lembaga kepolisian
Lembaga ini terutama menangani penyimpangan terhadap aturan-aturan atau hokum tertulis, dengan cara menangkap, memeriksa/menyidik dan selanjutnya mengajukan pelaku penyimpangan ke pengadilan
2. Pengadilan
Pengadilan memiliki fungsi membuat keputusan hukum terhadap warga masyarakat yang melakukan pelanggaran terhadap norma-norma hukum. Keputusan pengadilan disamping berdasarkan norma hukum, juga mempertimbangkan nilai-nilai kepatutan dan kesusilaan yang berlaku, hidup dan berkembang dalam masyarakat.
3. Adat istiadat
Adat istiadat pada umumnya mengandung norma-norma yang bersumber pada ajaranajaran agama atau keyakinan masyarakat. Adat istiadat memiliki peran penting dalam pengendalian sosial karena dapat saja orang lebih menghormati dan taat kepada adat dari pada terhadap hukum tertulis. Namun, adat istiadat juga dapat melengkapi aturan-aturan hukum tertulis.
4. Agama
Di dalam agama terdapat ajaran tentang perbuatan yang dilarang dan perbuatan yang dianjurkan, diperintahkan ataupun diperbolehkan. Dalam ajaran agama juga terdapat system sanksi dan ganjaran atau pahala. Perbuatan-perbuatan yang dilarang agama diklasifikasikan sebagai perbuatan dosa yang diancam dengan hukuman atau siksa neraka di akhirat.
5. Lembaga pendidikan
Melalui pendidikan orang mempelajari, mengakui dan membiasakan diri bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku dimasyarakatnya, sehingga lembaga pendidikan memegang peran penting dalam pengendalian sosial.
6. Tokoh masyarakat
Tokoh masyarakat adalah individu-individu yang memiliki kemampuan, pengetahuan, perilaku, usia, atau kedudukan yang dipandang penting oleh anggota masyarakat. Peran tokoh masyarakat dalam pengendalian sosial antara lain: mendamaikan persilisihan, memberikan nasehat kepada warga yang telah/akan melakukan penyimpangan, dan sebagainya.

E. Efektivitas pengendalian sosial
Menutur Soetandyo Wignyosubroto ada beberapa faktor dalam masyarakat yang ikut menentukan efektif atau tidaknya pengendalian sosial, yaitu:
1.      Menarik-tidaknya kelompok; semakin menarik, suatu kelompok semakin efektif dalam melakukan pengendalian sosial
2.      Otonomi-tidaknya kelompok; semakin otonom suatu kelompok (yang ditandai oleh kesadaran para anggota kelompok bahwa di luar kelompoknya tidak terdapat banyakkelompok serupa) maka pengendalian sosial semakin efektif
3.      Beragam tidaknya norma dalam kelompok; semakin banyak norma semakin besar potensi terjadinya anomie2
4.      Besar kecilnya kelompok; semakin besar kelompok, pengendalian sosial semakin tidak
5.      efektif
6.      Anomie-tidaknya kelompok; semakin anomie pengendalian sosial semakin tidak efektif
7.      Toleransi petugas pengendalian sosial terhadap pelangggaran/ penyimpangan yang terjadi.

Dalam hal ini toleransi petugas pengendalian sosial sering dipengaruhi oleh:
a. ekstrim tidaknya pelanggaran/penyimpangan
b. keadaan/situasinya
c. status atau reputasi pelanggar/penyimpang
d. azazi tidaknya nilai yang terkandung dalam norma yang dilanggar
Comments
0 Comments

0 comments: